Selasa, 03 Januari 2012

Qishosul Qur'an

Tujuan Pemaparan Kisah-kisah Naratif di dalam Al-Qur’an Al-Qur’an adalah mukjizat Nabi Muhammad yang paling besar. Kitab suci ini selain berisi ajaran yang diterima Rasulullah, juga banyak berisi cerita-cerita, sehingga di dalam Al-Qur’an sendiri, terdapat suatu surat bernama al-Qashash. Cerita-cerita yang terdapat dalam Al-Qur’an pada hakikatnya tidak bisa dipisahkan dari peranan yang diemban Nabi saw. dalam melaksanakan tugasnya sebagai Rasul. Pengetahuan yang diberikan Allah kepada Rasulullah selain untuk membangkitkan semangat juang Nabi, juga sebagai salah satu bentuk dari mukjizat yang menunjukkan betapa Nabi sebagai seorang yang ‘ummi mempunyai pengetahuan yang sedemikian banyaknya tentang peristiwa-peristiwa masa lalu. Pengetahuan ini amat perlu karena selain memberikan keyakinan kepada masyarakat Arab pada masa itu tentang kebenaran yang beliau bawa, juga merupakan senjata yang amat ampuh dalam menghadapi tantangan orang-orang Yahudi yang berusaha menggagalkan misi yang dibawa oleh Rasulullah. Qashash al anbiyaa’ ‘kisah-kisah para Nabi’ banyak dipaparkan di dalam Al-Qur’an. Tidak hanya Rasulullah saw., tetapi juga para Nabi sebelum beliau. Meskipun demikian, Al-Qur’an juga menyajikan kisah-kisah yang menyangkut berbagai peristiwa, seperti kerajaan Saba’, kisah Iskandar Zulkarnain, Ahlul Kahfi, kerajaan-kerajaan dan kota-kota besar yang pernah berjaya tetapi kemudian hancur, dll. Kisah-kisah tersebut tentunya dipaparkan untuk memberikan tauladan kepada kaum muslim. Secara garis besar, berikut ini adalah tujuan pemaparan kisah-kisah tersebut: • Meringankan penderitaan yang dirasakan oleh para Nabi dan kaum muslim dalam menegakkan kebenaran. “Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa engkau (Muhammad) berduka cita karena perkataan mereka. Sesunggunya mereka tiada mendustakan engkau (dalam hatinya), tetapi orang-orang aniaya yang menyangkal ayat-ayat Allah.” (al-An’am: 33) • Memanatapkan pendirian Nabi dan umat muslim, sehingga mampu bertahan sampai tercapai kemenangan. “Masing-masing riwayat Kami kisahkan kepada engkau, di antara kisah-kisah para Rasul supaya Kami tentaramkan hatimu; dan telah datang kebenaran dan pengajaran serta peringatan bagi orang-orang yang mukmin.” (Hud: 120) • Menegakkan nilai-nilai baru untuk menghancurkan kebiasaan masyarakat yang bobrok, seperti hikmah dari kisah kebiasaan kaum Luth. “(Kami) utus Luth ketika ia berkata kepada kaumnya, ‘Adakah kamu berbuat kejahatan yang belum diperbuat oleh seseorang di antara isi ala mini? Sesungguhnya kamu ingin kepada laki-laki, bukan kepada permpuan, bahkan kamu adalah kaum yang berlebih-lebihan. Sebagai hukuman, maka Allah menghukum mereka dengan hujan batu agar menjadi peringatan bagaimana kaibatnya orang-orang yang berbuat dosa.” (al-A’raf 80-81) • Mengajarkan nilai kejujuran dalam melakukan kegiatan ekonomi dan hubungan sosial lainnya. “(Kami utus) ke Madyan seorang saudaranya Syu’aib. Ia berkata, ‘Hai, kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada bagimu tuhan selain daripada-Nya. Sesungguhnya telah datang keterangan kepadamu dari Tuhanmu. Sebab itu sempurnakanlah sukatan dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan hak manusia dan jangan pula berbuat kebinasaan di muka bumi sesuadah baiknya. Demikian itu lebih baik bagimu jika kamu orang beriman.’” Saya jadi teringat akan pernyataan seorang dosen di sebuah universitas Islam yang menyatakan bahwa apa yang dikisahkan di dalam Al-Qur’an hanyalah simbol belaka. Kisah diturunkannya Nabi Adam ke dunia bukanlah kisah nyata. Ia menambahkan bahwa surga yang dimaksud tidak ada. Kisah itu adalah simbol kehidupan manusia yang harus berusaha keluar dari pemikirannya yang picik untuk survive menjalani alam nyata. Kok, bisa? Batin lan. Apa dia tidak meyakini bahwa isinya adalah kalam Allah? Firman yang tidak ada keraguan di dalamnya? Bagaimana dengan Anda? Yuk, kita diskusikan bersama!

makki madani

A. Pengertian Surat Makiyah dan Madaniyah Ada tiga pengertian yang dipakai para ulama’ dalam mengartikan surat makiyah dan madaniyah, yaitu : Pertama: Surat Makiyah adalah yang diturunkan di Makkah walaupun turunnya itu setelah hijrah. Yang termasuk turun di Makkah adalah daerah-daerah yang masih dalam kawasan Makkah, seperti di Mina, Arafah, dan Hudaibiyah. Sedangkan surat Madaniyah adalah yang diturunkan di Madinah. Yang termasuk turun di Madinah adalah seperti di kawasan Badar dan Uhud. Pembagian ini berdasarkan tempat turunnya Al-Qur’an (segi makani), tetapi hal ini tidak bisa dijadikan patokan atau batasan, karena hal ini tidak mencakup ayat-ayat yang diturunkan di selain Makkah dan Madinah. Tidak diragukan lagi bahwa tidak adanya batasan dalam pembagian itu menyebabkan tidak masuknya sejumlah ayat yang diturunkan diantara keduanya. Dan yang demikian ini mengandung cacat. Kedua: Surat Makiyah adalah yang mengkhitobi penduduk Mekkah, sedangkan ayat Madaniyah adalah yang mengkhotobi penduduk Madinah. Dari pengertian ini, dapat difahami bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang dimulai dengan ياايهاالناس adalah ayat Makiyah, dan ayat-ayat yang dimulai dengan ياايهاالذين امنوا adalah termasuk ayat Madaniyah. Karena kebanyakan orang kafir itu dari penduduk Makkah, meskipun dari penduduk Madinah juga ada yang kafir. Sedangkan orang-orang yang beriman kebanyakan dari penduduk Madinah, walaupun dari penduduk Mekah juga ada yang beriman. Pembagian ini didasarkan pada mukhotobnya (segi khitobi), tetapi ketentuan tadi mengecualikan dua hal : 1. Tidak adanya patokan dan batasan. Sebenarnya permulaan surat dalam Al-Qur’an tidak hanya dimulai dengan salah satu kedua lafadz tersebut. Sebagaimana dalam permulaan suratal-Munafiqun: اذاجاءك المنافقون قالوانشهدانك لرسول الله والله يعلم انك لرسوله والله يشهد ان المنا فقين لكادبون. (المنا فقون:1) Artinya : “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu,mereka berkata:”Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rosul Allah”. Dan Allah mengetahui sesungguhnya kamu benar-benar Rosul-Nya; Dan Allah mengetahui sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.(QS.Al-Munafiqun:1). 2. Pembagian ini tidak berlaku secara umum dalam kedua sighot tersebut, melainkan terdapat ayat-ayat Madaniyah yang dimulai dengan sighot “Yaa Ayyuhan Naasu”dan terdapat ayat-ayat Makiyah yang dimulai dengan “Yaa Ayyuhal Ladziina Amanu”. Contoh yang pertama QS. An-Nisa’. Sebenarnya surat ini termasuk surat Madaniyah, namun permulaannya “Yaa Ayyuhan Nasu taku Robbakum”. Sedangkan contoh yang kedua adalah QS. Al-Hajj. Sebenarnya surat ini termasuk dalam kelompok surat Makiyah. Namun pada bagian akhir terdapat : يـــا ايها الذ ين امنوا ار كعوا واسجد وا . Sehingga sebagian ulama mengatakan, apabila yang dimaksud adalah sebagian besar ayat itu dimulai dengan ungkapan tersebut, maka yang demikian itu adalah benar. Ketiga: Ayat Makiyah adalah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebelum nabi hijrah, walaupun turunnya di lain kota Mekah. Sedangkan ayat Madaniyah adalah yang diturunkan setelah nabi hijrah, walaupun turunnya di Makkah. Pembagian ini dilihat dari waktu turunnya (segi zamani). Pembagian ini adalah pembagian yang benar dan selamat dari cacat, karena di sini terdapat patokan dan batasan yang barlaku secara umum.Oleh karena itu,kebanyakan ulama’ berpegang pada pendapat ini. Sebagaimana firman Allah SWT: اليوم اكملت لكم دينكم واتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الاسلام دينا Artinya : “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamu,dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu menjadi agama bagimu.(Al-maidah:3) Ayat ini diturunkan pada hari Jum’at di Arafah ketika haji Wada’, tetapi ayat ini termasuk ayat madaniyah. B. Faedah Mengetahui Surat Makiyah dan Madaniyah 1. Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan Al-Qur’an, sebab pengetahuan mengenai tempat turun ayat dapat membantu memahami ayat tersebut dan mentafsirkannya dengan tafsiran yang benar, sekalipun yang menjadi pegangan adalah pengertian umum lafadz, bukan sebab yang khusus. Berdasarkan hal itu seorang penafsir dapat membedakan mana nasikh dan mana mansukh bila diantara kedua ayat terdapat makna yang kontradiktif. Contoh: والذين يتوفّون منكم ويذرون ازواجا وصية لازوجهم متاعا الى الحول(البقرة :240) Dinasikh dengan ayat: يتربصن بانفسهن اربعة اشهر وعشرا(البقرة :234) 2 2. Meresapi gaya bahasa Al-Qur’an dan memanfaatkannya dalam metode berdakwah menuju jalan Allah, sebab setiap situasi mempunyai bahasa sendiri. 3. Mengetahui sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat Al-Qur’an, sebab turunnya wahyu kepada Rosululloh sejalan dengan sejarah dakwah beserta segala peristiwanya. 4. Mengetahui tarikh tasyri’ dan pemantapan dalam mentasyri’kan hukum secara umum. 5. Percaya bahwa AL-Qur’an telah sampai kepada kita terhindar dari perubahan dan pembelokan. Oleh karena itu perlu bagi orang-orang islam mengetahuinya dengan seksama, sehingga mereka bisa mengatahui, dan kemudian beralih mengetahui ayat-ayat yang diturunkan sebelum hijrah dan sesudah hijrah, ayat-ayat yang diturunkan pada siang hari dan pada malam hari,dst. 6. Agar dapat meningkatkan keyakinan terhadap kebenaran, kesucian dan keaslian al-Qur’an. Dr Subhi Shalih dalam bukunya “Mabahits fi Ulumil Qur’an” mengatakan bahwa faedah dari ilmu ini adalah: 1. Dapat mengetahui fase-fase dari da’wah islamiyah yang ditempuh oleh Al-Qur’an secara berangsur-angsur dan sangat bijaksana. 2. Dapat mengetahui situasi dan kondisi lingkungan masyarakat pada waktu turunnya ayat-ayat Al-Qur’an, khususnya masyarakat Mekkah dan Madinah. 3. Dapat mengetahui Uslub-uslub bahasanya yang berbeda, karena ditujukan kepada golongan-golongan yang berbeda. C. Cara-cara Mengetahui Surat Makiyah dan Maddaniyah. Untuk mengetahui surat Makiyah dan Madaniyah para ulama’ bersandar pada dua cara utama : 1. Sima’i naqli (pendengaran seperti apa adanya), yakni melalui riwayat yang berasal dari sahabat dan tabi’in, karena Nabi saw. Tidak pernah menjelaskan ayat Makiyah dan Madaniyah. Hal ini karena umat Islam pada waktu itu tidak memerlukan keterangan seperti itu. Bagaimana mereka masih memerlukannya? Padahal mereka menyaksikan sendiri diturunkannya wahyu dan Al-Qur’an, menyaksikan tempat turunnya, waktunya, sebab-sebab diturunkannya secara jelas. “Yang sudah jelas tidak memerlukan penjelasan lagi.” 2. Qiyasi ijtihadi (qiyas hasil ijtihad), yakni didasarkan pada ciri-ciri Makiyah dan Madaniyah. D. Ciri-ciri Surat Makiyah dan Surat Madaniyah Ciri-ciri khas untuk surat Makkiyah dan surat Madaniyah ada 2 macam, yaitu yang bersifat qath’i dan bersifat aghlabi. Ciri-ciri khas yang bersifat qath’i dari surat Makkiyah adalah: 1. Setiap surat yang mengandung ayat sajdah. 2. Setiap surat yang didalamnya terdapat lafadh “kalla”. Lafadz ini di dalam Al-Qur’an telah disebutkan sebanyak 33 kali dalam 15 surat dan kesemuanya itu dalam separuh Al-Qur’an yang akhir. 3. Setiap surat yang terdapat seruan ياايهاالناس kecuali Surat Al-Hajj ayat 77. 4. Setiap surat yang terdapat kisah-kisah para nabi dan umat-umat terdahulu, kecuali Surat Al-Baqarah. 5. Setiap surat yang terdapat kisah Nabi Adam dan Idris, kecuali surat al-Baqarah. 6. Setiap surat yang dimulai dengan huruf tahajji (huruf hija’iyah), kecuali surat al-Baqarah dan Ali Imran. Mengenai surat ar-Ra’d ada dua pendapat. Jika dilihat dari segi uslub dan temanya, maka lebih tepat dikatakan surat Makiyah, tetapi sebagian ulama’ lain mengatakan surat Madaniyah. Adapun ciri-ciri khas yang bersifat aghlabi dari surat Makkiyah adalah: 1. Ayat-ayat dan surat-suratnya pendek-pendek, nada perkataannya keras dan agak bersajak. 2. Mengandung seruan untuk beriman kepada Allah SWT dan hari akhir serta menggambarkan keadaansurga dan neraka. 3. Menyeru manusia berperangai mulia dan berjalan lempeng diatas jalan kebajikan. 4. Mendebat orang-orang musyrikin dan menerangkan kesalahan-kesalahan pendirian mereka. 5. Banyak terdapat lafadh qasam (sumpah). Sedangkan ciri-ciri khas dari surat-surat Madaniyah yang bersifat qath’i adalah sebagai berikut: 1. Setiap surat yang mengandung izin berjihad, atau ada penerangan tentang jihad dan penjelasan tentang hukum-hukumnya. 2. Setiap surat yang menjelaskan secara terperinci tentang Hukum Pidana, Fara’idh, Hak-hak Perdata, peraturan-peraturan yang berhubungan dengan bidang keperdataan, kemasyarakatan dan kenegaraan. 3. Setiap surat yang didalamnya menyinggung hal ihwal orang munafiq, kecuali surat Al-Ankabut. 4. Setiap surat yang mendebat kepercayaan ahli kitab, dan mengajak mereka tidak berlebih-lebihan dalam beragama. Selain empat ciri di atas, ada lagi ciri khas dari surat-surat Madaniyah yang bersifat aghlabi, yaitu sebagai berikut: 1. Suratnya panjang-panjang, dan sebagian ayat-ayatnya pun panjang-panjang serta jelas dalam menerangkan hukum dengan mempergunakan uslub yang terang. 2. Menjelaskan secara terperinci bukti-bukti dan dalil-dalil yang menunjukkan hakikat keagamaan. E. Surat Makiyah dan Madaniyah serta Surat-surat yang Diperselisihkan. Di dalam kitab Al-Itqon, Imam As-Suyuti banyak mengutip pendapat para ulama’ dalam menentukan surat-surat yang termasuk dalam kategori Makiyah dan Madaniyah. Diantara pendapat yang paling sesuai adalah yang dikemukakan oleh Abu Al-Hasan dala kitabnya “Al-Nasikh wa Al-Mansukh”. Beliau mengatakan, berdasarkan kesepakatan ulama’ bahwa surat-surat Madaniyah itu ada 20 surat, yaitu : Al-Baqoroh, Ali ‘Imron, An-Nisa’, Al-Maidah, Al-Anfal, At-Taubah, An-Nur, Al-Ahzab, Muhammad, Al-Fath, Al-Hujurat, Al-Hadid, Al-Mujadalah, Al-Hasyr, Al-Mumtahanah, Al-Jumu’ah, Ak-Munafiqun, At-Talaq, At-Tahrim dan An-Nashr. Sedangkan yang diperselisihkan ada 12 surat, yaitu: Al-Fatihah, Ar-Ro’d, Ar-Rohman, As-Shaff, At-Taghabun, At-Tatfif, Al-Qodar, Al-Bayinah, Al-Zalzalah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Selain yang disebutkan di atas adalah surat Makiyah, yaitu 82 surat. Maka jumlah surat-surat Al-Qur’an itu semuanya ada 114 surat. F. Jenis-jenis Kategori Surat Makiyah dan Madaniyah Terkadang satu surat semua ayatnya Makiyah, atau semua ayatnya Madaniyah. Terkadang juga surat Makiyah sebagian ayatnya bukan Makiyah, atau surat Madaniyah sebagian ayatnya bukan Madaniyah. Dan masih banyak lagi jenis kategori yang lainnya. 1. Contoh surat yang semua ayatnya Makiyah yaitu Surat Al-Mudatsir. 2. Contoh surat yang semua ayatnya Madaniyah yaitu Surat Ali ‘Imron. 3. Contoh ayat-ayat Madaniyah dalam surat Makiyah yaitu Surat Al-A’raf ayat: واسئلهم عن القرية التي كا نت حاضرة البحر اذ يعد ون فى السبت اذ تاءتيهم حيتانهم يوم سبتهم شرعا ويوم لا يسبتون لا تاءتيهم كذلك نبلوهم بما كانوا يفسقون. (الاعراف:163) Ini menurut Qatadah. Sedangkan yang selain Qatadah mengatakan bahwa semua ayatnya makiyah kecuali ayat tersebut di atas, tetapi sampai pada ayat: واذ اخد ربك من بنى ادم من ظهورهم ذريتهم. (الاعرف:172) Dan surat Al-An’am ibnu Abbas berkata surat ini diturunkan sekaligus di Makkah, maka ia Makiyah, kecuali tiga ayat yang diturunkan di Madinah yaitu ayat : قــل تعـــالوا اتــل مـــا حــرم ربكـــم عليكــم ألاّ تشركوا به شيئا ........ الاية (الأنعام:151-153) 4. Contoh ayat-ayat Makiyah dalam surat Madaniyah yaitu Surat al-Hajj ayat: وما ارسلنا من قبلك من رسول ولا نبي الا اذا تمنى القى الشيطان في امنيته فينسخ الله ما يلقىي الشيطان ثم يحكم الله اياته والله عليم حكيم.(الحج:52) Sampai pada ayat: ولا يزال الذين كفروا في مرية منه حتى تاءتيهم الساعة بغتة اوياءتيهم عذاب يوم عقيم. (الحج:55) 5. Contoh ayat yang turun di Makkah tetapi hukumnya Madani yaitu: يا ايهاالناس اناخلقنكم من ذكروانثى وجعلنكم شعوبا وقبائل لتعارفواان اكرمكم عندالله اتقاكم ان الله عليم خبير. (الحجرات : 13) Ayat ini turun di Makkah saat penaklukan kota Makkah, tetapi ia adalah ayat Madani karena turunnya setelah Hijrah. Juga yang hampir sama dengan ayat di atas adalah : اليوم اكملت لكم دينكم واتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الاسلام دينا. (المائدة : 3) 6. Contoh ayat yang turun di Madinah tetapi hukumnya Makiyah yaitu Surat Al-Mumtahanah. Surat ini diturunkan di kota Madinah tetapi Allah (berkhitob) menujukannya untuk orang-orang Makkah. Begitu juga surat An-Nahl yang berbunyi : والذين هاجروا في الله من بعد ماظلموا لنبوئنهم في الدنيا حسنة ولاجرالاخرة اكبر لوكانوا يعلمون. (النحل : 41) 7. Contoh ayat yang turunnya seperti bentuk ayat Madani tetapi ia terdapat dalam surat-surat Makiyah yaitu firman Allah dalam surat An-Najm : الذين يجتنبون كبائرالاثم والفواحش الااللمم ان ربك واسع المغفرة هلواعلم بكماذانشأ كـــم من الأرض واذانتم اجنّة في بطون امّهتكــمصلى فلا تزكوا انفسكــم صلىهو اعلم بمن اتّقـى. (النجم:32) Karena al-Fawakhisy adalah segala dosa yang diancam dengan had (hukuman). Sedangkan al-Kabair adalah segala dosa yang akibatnya adalah neraka. Sedangkan al-Lamam adalah dosa-dosa kecil yang terdapat di antara dua had (hukuman). Dan perlu diketahui bahwa di Makkah belum ada had atau semisalnya. 8. Contoh ayat yang menyerupai ayat Makiyah tetapi terdapat dalam surat Madaniyah yaitu firman Allah yang berbunyi : والعــديـتضبحــا فالموريــت قدحــا فالمغيرات صبحــا ......... الأية (العــديت: 11-1) Juga firman Allah dalam surat al-Anfal yang berbunyi : واذقالوا اللهــم ان كان هذاهوالحقّ من عندك فأمطر علينا حجارة من السماءاوائتنا بعذاب الــيمز (الأنفال : 32) 9. Contoh surat yang dibawa dari Makkah ke Madinah yaitu surat Yusuf dan al-Ikhlas. Imam as-Suyuthi berkata : “Yang termasuk dalam golongan ayat di atas adalah surat al-A’la, seperti yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori dalam shahihnya. 10. Contoh surat yang dibawa dari Madinah ke Makkah yaitu firman Allah dalam surat al-Baqoroh ayat 217 juga ayat riba di permulaan surat Baro’ah dan an-Nisa’ ayat 97. 11. Contoh ayat yang dibawa ke Habasyah adalah firman-Nya : قل يــأهل الكـــتا ب تعالوا الى كـــلمة سواء بيننا وبينكــم الاّ نعبد الا ّالله ولا نشرك به ............ الأية. (ال عمر ان:64) H. Klasifikasi Ayat-ayat Al-Qur’an Berdasakan Tempat dan Waktu 1. Ayat-ayat Hadlori dan Safari Ayat Hadlori adalah ayat-ayat yang diturunkan ketika Nabi di rumah atau tidak dalam perjalanan. Seddangkan ayat Safari adalah ayat-ayat yang turun ketika Nabi berada dalam perjalanan. Contoh ayat-ayat Hadlori sangat banyak, sehingga tidak perlu disebutkan di sini. Sedangkan contoh ayat-ayat Safari diantaranya : واتّخــذوا من مقــام ابـــراهــــم مصـــلى (البقرة:125) Ayat-ayat Safari lainnya adalah : QS. Al-Baqarah:196, QS. Al-Baqarah:285, QS. Al-Baqarah:281, QS. AL-Baqarah:172, QS. An-Nisa’:43, QS. An-Nisa’:58, QS. An-Nisa’:102, QS. An-Nisa’:176, QS. Al-Maidah:1, QS. Al-Maidah:3, QS. Al-Maidah:6, QS. Al-Maidah:11, QS. Al-Maidah:67, QS. Al-Anfal:1, QS. Al-Anfal:9, QS. At-Taubat:34, QS. At-Taubat:42, QS. At-Taubat:65, QS. At-Taubat:113, QS. An-Nahl:126-128, QS. Al-Isro’:76, QS. Al-Hajj:1-2, QS. Al-Hajj:19, QS. Al-Hajj:39, QS. Al-Furqan:45, QS.Al-Qashshas:85, QS. Ar-Ruum:1-5, QS. Muhammad:13, QS. Al-Hujurat:13, QS. Al-Qamar:45, QS. Al-Waqiah:13, QS. Al-Waqi’ah:81-82,dan QS. Al-Mumtahanah:10. 3. Ayat-ayat Nahari dan Laili Ayat Nahari adalah ayat-ayat yang diturunkan di waktu siang hari. Sementara ayat Laili adalah ayat-ayat yang diturunkan di waktu malam hari. Contoh ayat-ayat Nahari sangat banyak, Ibnu Habib berkata : “Kebanyakan ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan di siang hari”. Sedangkan ayat-ayat yang diturunkan di waktu malam adalah sebagai berikut : Pertama: Ayat tentang perpindahan qiblat. Sedang waktu itu Nabi shalat menghadap Baitul Maqdis, lalu turunlah ayat ini : قد نرى تقــلب وجــهكفي الســماء صلى فلنوليـنّـك قباـة ترضــها ............... الاية (البقرة:144) Ayat-ayat Laili lainnya adalah : QS. Ali Imron:190, QS. Al-Maidah:67, QS. At-Taubat:118, QS. Al-Hajj:1-2, QS. Al-Ahzab:59, QS. Az-Zukhruf:45, QS. Al-Fath:1, QS. Al-A’laq:1-5, dan QS. An-Naas:1-6. Ada beberapa ayat yang diturunkan antara waktu siang dan malam di waktu subuh. Ayat-ayat itu ialah sebagai berikut : 1). Ayat tentang tayammum dalam QS. Al-Maidah:6 dan 2). QS. Ali Imron:128 yang diturunkan ketika Nabi SAW. Dan para sahabatnya melakukan Shalat subuh di rakaat kedua. 3. Ayat-ayat Shaifi dan Syita’i Ayat Shaifi adalah ayat-ayat yang diturunkan di waktu musim panas. Sedangkan ayat Syita’i adalah ayat-ayat yang diturunkan di waktu musim dingin. Al-Wahidi berkata : Ada dua ayat dalam Al-Qur’an yang membahas tentang al-Kalalah (yaitu seseorang yang meninggal tetapi tak mempunyai seorang ahli waris pun). Salah satunya adalah ayat Syita’i, yang turun di musim dingin. Ayat ini terdapat di awal surat an-Nisa’. Sedangkan yang lainnya turun di saat musim panas, yang terdapat di akhir surat an-Nisa’. Ayat-ayat yang diturunkan di saat musim panas (ayat Shaifi) diantaranya terdapat dalam QS. An-Nisa’:176, QS. Al-Maidah:6, QS. Al-Baqarah:282, QS. An-Nashr:1-3, QS. At-Taubat:49, QS. At-Taubat:81, QS. An-Nur:11-26, dan QS. Al-Ahzab:9. 4. Ayat-ayat Firasyi dan Naumi Ayat Firasyi adalah ayat-ayat yang diturunkan ketika Nabi berada di atas tempat tidur. Sedangkan ayat Naumi adalah ayat-ayat yang diturunkan di saat Nabi sedang tidur. Diantara contoh ayat-ayat Firasyi adalah firman Allah yang berbunyi : والله يعصـمك من الــنا س قلى انّ الله لا يهـدى القــوم الكـــفرين. (المائده:67) Ayat-ayat Firasyi lainnya adalah ayat tentang tiga orang sahabat yang tidak ikut berperang dalam surat Al-ahzab. Ini semua berdasarkan sebuah hadits dalam riwayat Bukhari dan Muslim bahwa ayat-ayat tadi turun di waktu sepertiga malam yang akhir, di mana saat itu Rasulullah sedang berada di rumah Ummu Salamah. Sedangkan ayat Naumi yaitu surat Al-Kautsar:1-3. 5. Ayat-ayat Ardli dan Sama’i Ayat Ardli adalah ayat-ayat yang diturunkan di bumi. Sedangkan ayat Sama’i adalah ayat-ayat yang diturunkan di langit. Telah disebutkan dalam perkataan Ibnu al-Arabi bahwa alam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang turun di langit, ayat-ayat yang turun di bumi, ayat-ayat yang turun diantara langit dan bumi, dan ada pula ayat-ayat yang turun di bawah tanah, yaitu gua. Ibnu al-Arabi dari Hibatullah al-Mufassir berkata : Semua ayat dalam Al-Qur’an turun diantara dua kota (Makkah dan Madinah), kecuali 6 ayat yang tidak turun di langit dan tidak di bumi. Tiga ayat terdapat dalam QS. ash-Shaffat:164-166, dan dua ayat lainnya terdapat di akhir surat al-Baqarah ayat 285-286, dua ayat ini turun di malam mi’raj. Dan satu ayat terdapat dalam QS. Az-Zukhruf:45.

Nasakh Mansukh

A. Pengertian Nasakh
Nasakh secara etimologi dapat bermakna antara lain:
a. Al Izalatu yang artinya menghilngkan, Seperti orang arab, matahari menghilangkan bayang – bayang.
b. An Naqlu artinya memindahkan dari suatu tempat ketempat yang lain.
c. At Tabdil artinya memindahkan.
d. Dan adakalanya bermakna At Tahwil yang artinya juga memindahkan.

Nasakh secara syara’ adalah menghilangkan suatu hukum syara yang lama diganti dengan suatu hukum syara’ yang baru atau yang datang terakhir. Sedangkan menurut ulama Ushul yaitu penghapusan oleh syar’i terhadap suatu hukum syara’ dengan dalil syara’ yang datang kemudian.

Nasakh dan mansukh merupakan hal yang harus di ketahui oleh meeka yang yang menekuni tentang hukum – hukum syariat. Sebab tidak mungkin bagi seorang pengkaji untuk menggali hukum – hukum dari dalil – dalilnya tanpa mengetahui nasakh dan mansukh. Dalam hal ini, al Hadzimi mengatakan , bahwa cabang limu ini merupakan kesempurnaan ijtihad, sebab rukun utama ijtihad adalah mengenai dalil naqli. Salah satu cara untuk mengetahui kejelasannya adalah dengan mengetahui mana yang awal dan mana yang akhir dari dua hal yang tampak bertentangan, dan lain - lain.
Sebagian bahan nasakh dan mansukh telah dikodifikasikan bersamaan dengan munculnya karya – karya pada awal abad 2 H. Tak lama kemudian si susun secara khusus dalam karya – karya terendiri. Dan karya yang paling lengkap sampai sekarang kepada kita yaitu karya abad 4 hijriyah adalah kitab Nasikh al Hadits Wa Mansukhukhu karya ahli hadits Irak, Abu Hafs Umar Ahmad al Baghdadiy ( 548 – 584 ). Kitab ini dicetak beberapa kali.
Menurut istilah fuqoaha nasakh bermakna antara lain :
1. Membatalkan hukum yang diperoleh dari nash yang terdahulu dengan nash yang datang kemudian. Contoh dalam hadits Nabi SAW. : “ saya dahulu melarang kamu untuk berziarah kubur, ketahuilah maka berziarah kuburlah”.
2. Menghilangkan umum nash yang terdahulu atau membatasi kemutlakanny, misalnya firman Alloh SWT. Dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah :
     .....



Kemudia Alloh berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 49 :
                       

Sesungguhnya pembatalan nash yang terkemudian terhadap nash yang terdahulu adalah terhenti (tergantung) atas dua hal :
1. Bahwasanya nash yag terkemudian ( menyusul) itu menasakh atau menghapus nash yang terdahulu.
2. Diantara dua nash itu terdapat perlawanan yang tidak mungkin untuk mengumpulkan antara keduanya
Contoh : firman Alloh SWT. :
 •                           
65. Hai Nabi, Kobarkanlah semangat Para mukmin untuk berperang. jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti[623].

[623] Maksudnya: mereka tidak mengerti bahwa perang itu haruslah untuk membela keyakinan dan mentaati perintah Allah. mereka berperang hanya semata-mata mempertahankan tradisi Jahiliyah dan maksud-maksud duniawiyah lainnya.
kemudian di nasakh dengan Firman Alloh SWT :
                             
66. sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.
Nash dalam dua ayat tersebut adalah pilihan, sedang tujuannya adalah mengadakan.






Macam macam nasakh didalam Al Quran ada 3 antara lain yaitu :
1. Menasakh bacaan dan hukumnya
Contoh : seperti ayat mengharamkan(menjadikan nasab) sebab 10 kali tetekan( jawa: sesepan) HR. dari S. ’Aisyah RA. kenudian dinasakh dengan lima kali Tetekan.
2. Menasakh bacaan saja tapi menetapkan hukumnya
Contoh : dalam surat An-Nur
3. Menasakh hukumnya dan menetapkan bacaannya
Pendapat Az-Zarkasyi banyak terdapat dalam Al-quran tentang nasakh mansukh jenis terakhir ini yaitu 63 surat, diantaranya ayat tentang wasiat, ‘iddah, memberi shadaqah ketika sowan kepada Rasulullah SAW. , mencegah memerangi orang musyrik dan lain-lain.

makalah Muhkam Mutasyabih

BAB 1

Pendahuluan

A. Latar belakang
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw dan segenap keluarganya, serta para sahabatnya. Amma ba’du.
Untuk pembelajaran bagi kita semua, diperlukan adanya uraian tentang dasar dasar pada materi yang akan kami bahas pada kesempatan kali ini. Salah satu persoalan ‘Ulum Al-Qur’an yang masih diperdebatkan hingga saat ini adalah kategorisasi Muhkam-Mutasyabih. Perdebatan seputar masalah ini telah banyak mengisi lembaran khazanah keilmuan islam,terutama menyangkut penafsiran Al-Qurán. Adanya perbedaan pendapat ulama tentang hubungan suatu ayat atau surat merupakan latar belakang adanya Muhkam-Mutasyabih. Secara ringkasnya Muhkam Wal Mutasyabbih adalah ayat ayat yang jelas dan samar untuk diketahui artinya.

Muhkam Mutasyabih